jump to navigation

asal usul nama indonesia April 4, 2008

Posted by bungkoes in Uncategorized.
trackback

Kita sebagai bangsa indonesia,mungkin sedikit sekali yang mengetahui dari mana asalnya nama negara kita ini, Untuk itu saya akan memposting darimana sih asal usul nama Indonesia, negeri kita yang kita cintai, yang katanya gemah ripah loh jinawi…he..he….tapi sayang hutangnya banyak…..Artikel ini saya ambil dari milist NTUST-ISA

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalamcatatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (KepulauanLaut Selatan).
Berbagai catatan kuno bangsa India menamaikepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan darikata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang).
Kisah Ramayana karya pujangga
Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri
Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu
Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kitaJaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalahbenzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab parapedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yangdahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampaihari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orangArab. Bahkan orang Indonesialuar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi(Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanyaJawa) ” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan orangEropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yangpertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia,India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cinasemuanya adalah “Hindia”.
Semenanjung Asia Selatan merekasebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “HindiaBelakang” . Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “KepulauanHindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau”Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies,Indes Orientales).
Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais). Ketika tanahair kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalahNederlandsch- Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukanJepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard DouwesDekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli,pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanahair kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia”(bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde inikurang populer. Bagi orang Bandung, Insulindemungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, ErnestFrancois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagaiDr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkansuatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”.Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelamberabad- abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskahkuno zaman Majapahit yang ditemukan di Balipada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes danditerbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa
pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan
pengertian, nusantara zaman Majapahit.
Pada masa Majapahit Nusantara
digunakan untuk men yebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam
bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari
Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari
Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa”
(Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati
istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi
jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu
asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa
diantara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam
definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan
cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia
Belanda. Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk
menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke.
Tetapi nama resmi bangsa dan negarakita adalah Indonesia.Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagilidah Melayu ini muncul. Nama Indonesia Pada tahun 1847 di Singapura terbitsebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and EasternAsia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orangSkotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh.
Kemudian pada tahun 1849seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dalam JIAEAVolume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the LeadingCharacterist ics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagipenduduk Kepulauan Hindia at au Kepulauan Melayu untuk memilikinama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan seringrancu dengan penyebutan Indiayang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesosdalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago wouldbecome respectively Indunesians or Malayunesians. Earl sendiri menyatakanmemilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (KepulauanHindia) , sebab Malayunesia sangat tepat untuk
ras Melayu, sedangkanIndunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa).Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruhkepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilahMalayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah airkita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang danmembingungkan.
Logan memungut nama Indunesia yang dibuangEarl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik.Maka lahirlah istilah Indonesia. Untuk pertama kalinya kata Indonesiamuncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr.Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it infavour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, whichis merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.
Ketika mengusulkan nama
“Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama
itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat
keempat terbesar di muka bumi !
Sejak saat itu Logan secara
konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan
ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan
para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar
etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905)
menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel
sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara
ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880.
Buku Bastian inilah yang
memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda,
sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan
Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam
Encyclopedie van Nederlandsch- Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil
istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula
menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki
Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau
mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Makna
politis Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan
istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh
tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama
Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu
bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan!
Akibatnya pemerintah Belanda mulai
curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun
1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels
Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan
mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan
nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische
Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra,
berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalamtulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (detoekomstige vrije Indonesische staat) mustahildisebut “HindiaBelanda” . Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapatmenimbulkan kekeliruan dengan Indiayang asli. Bagi kami nama Indonesiamenyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkandan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untukmewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. “
Sementara itu, di tanah air Dr.Sutomo mendirikan Indonesische. Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu jugaPerserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia(PKI) . Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan NationaalIndonesisc he Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yangmula-mula menggunakan nama “Indonesia”.
Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanahair, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesiatanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga
orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad
Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo,
mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia”
diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi
Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah. Maka
kehendak Allahpun berlaku.
Dengan jatuhnya tanah air kitaketangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “HindiaBelanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945,atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.Dirgahayu Indonesiaku*
Penulis, Direktur Pendidikan
“Ganesha Operation”

Comments»

No comments yet — be the first.